kumpulan puisi
Kamis, 19 Maret 2015
DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani
Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani
DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa
Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun
Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku
Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada
Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu
Sabtu, 07 Januari 2012
Es Dawet
Aduh senangnya duduk disini…di trotoar kota tua pantai utara…mereguk nikmatnya segelas es dawet…segarnya serasa menyiram raga.
Aduh nikmatnya duduk di sini…di atas batu hitam pinggiran jalan…menyeruput es dawet yang tersisa…sirnalah lelah yang mendera…
Sepanjang jalan ku biarkan kaki melangkah…
Menikmati pemandangan taman taman kota
berhiaskan bermacam kerimbunan bunga…dan aneka pepohonan menjadi penyejuknya
sepanjang jalan ku biarkan kaki melangkah…
Memandang lalu lalang orang orang kota…
Dengan pakaian beraneka warna…menghias sudut sudut jalanan selepas pandangan mata..
Rupanya semua masih sama…dalam satu citarasa
antara orang orang kota yang jauh di utara…
Merasakan nikmatnya mereguk segelas es dawet dari jawa…
Bapak tua tersenyum penuh gembira…terkesan nada suara kata katanya….sajiannya tak tersisa..harapannya telah tercipta…diantara panasnya jalanan kota
kadang nampak menyeka butiran butiran keringat…. di antara keriuhan orang orang kota…yang berjajar di antrean bangku meja…
sungguh luar biasa…aku pun tersenyum bangga…memandang nikmatnya orang orang kota… sambil bercanda tawa mereguk es dawet yang tersisa.
Karya : Rasull abidin , 07 Jan 2012
Aduh nikmatnya duduk di sini…di atas batu hitam pinggiran jalan…menyeruput es dawet yang tersisa…sirnalah lelah yang mendera…
Sepanjang jalan ku biarkan kaki melangkah…
Menikmati pemandangan taman taman kota
berhiaskan bermacam kerimbunan bunga…dan aneka pepohonan menjadi penyejuknya
sepanjang jalan ku biarkan kaki melangkah…
Memandang lalu lalang orang orang kota…
Dengan pakaian beraneka warna…menghias sudut sudut jalanan selepas pandangan mata..
Rupanya semua masih sama…dalam satu citarasa
antara orang orang kota yang jauh di utara…
Merasakan nikmatnya mereguk segelas es dawet dari jawa…
Bapak tua tersenyum penuh gembira…terkesan nada suara kata katanya….sajiannya tak tersisa..harapannya telah tercipta…diantara panasnya jalanan kota
kadang nampak menyeka butiran butiran keringat…. di antara keriuhan orang orang kota…yang berjajar di antrean bangku meja…
sungguh luar biasa…aku pun tersenyum bangga…memandang nikmatnya orang orang kota… sambil bercanda tawa mereguk es dawet yang tersisa.
Karya : Rasull abidin , 07 Jan 2012
Hancur jiwaku
January 7, 2012 at 4:44 pm
Saat aku ingat dirimu kasih
hati ini terasa seperti teriris
bagai kulit yang disayat oleh pisau
aku harus menerima kenyataan
sekarang dirimu telah dimiliki orang lain
tak mungkin bagiku untuk bisa bersama kembali denganmu
walau aku mencoba untuk mengihlaskanmu dengannya
tapi aku merasa tak sanggup
seandainya kamu tahu apa yang aku rasakan
hancur jiwaku bagaikan bunga tak bermadu
Puisi karya:orang
hati ini terasa seperti teriris
bagai kulit yang disayat oleh pisau
aku harus menerima kenyataan
sekarang dirimu telah dimiliki orang lain
tak mungkin bagiku untuk bisa bersama kembali denganmu
walau aku mencoba untuk mengihlaskanmu dengannya
tapi aku merasa tak sanggup
seandainya kamu tahu apa yang aku rasakan
hancur jiwaku bagaikan bunga tak bermadu
Puisi karya:orang
panggilan untukku
January 7, 2012 at 4:45 pm
harum mewangi surgawi,
sentuh isi nurani,
sbg tanda aku tidak sendiri
wahai bidadari-bidadari hati,
berkenanlh temani aku,
bawa jua sayap putihmu,
terbang & selamatkn aku
karya:
wanabe madara
sbg tanda aku tidak sendiri
wahai bidadari-bidadari hati,
berkenanlh temani aku,
bawa jua sayap putihmu,
terbang & selamatkn aku
karya:
wanabe madara
Dikala sengitan langit
Dikala sengitan langit
batu seakan melinggis hidupku…
menerkam setiap riuk pikuk dering suaraku…
hati ku menanah tangis…
menggebur setetes racun….
setelah melepas kepergianmu….
kini aku baru menyadari….
bahwa diriku seperti putri malu…
yang tak berkutip saat menatap mu
kini aku tahu betapa sakitnya hatiku…
disaat mulutku mulai membisu…
aku seperti kartu memory yang rusak…
hanya dapat mengindah masa lalu
aku seperti parasit…
yang slalu bergantung pada dirimu….
aku tak mampu menjalani hidupku
tanpa dirimu….
andai waktu adalah milikku…
aku ingin mengembalikkan waktu itu
nan mengusik kebersamaan
tanganku yang kau elus
dengan manja
senyummu yang kau kait padaku
dengan manis
seakan tak dapat ku lupakan begitu saja…
hari-hariku seperti hampa…
hatiku seperti bom yang ingin meledak
jika mengingat dirimu…
sahabat……..
aku merindukanmu…
sangat merindukanmu
aku ingin mengirim sepupuk rindu padamu…
melalui sajak puisi ini…
aku ingin kau menjadi bintang
yang tetap bersinar dihatiku
sahabatku….
Puisi ini Karya : Gracia Sari Asinta
menerkam setiap riuk pikuk dering suaraku…
hati ku menanah tangis…
menggebur setetes racun….
setelah melepas kepergianmu….
kini aku baru menyadari….
bahwa diriku seperti putri malu…
yang tak berkutip saat menatap mu
kini aku tahu betapa sakitnya hatiku…
disaat mulutku mulai membisu…
aku seperti kartu memory yang rusak…
hanya dapat mengindah masa lalu
aku seperti parasit…
yang slalu bergantung pada dirimu….
aku tak mampu menjalani hidupku
tanpa dirimu….
andai waktu adalah milikku…
aku ingin mengembalikkan waktu itu
nan mengusik kebersamaan
tanganku yang kau elus
dengan manja
senyummu yang kau kait padaku
dengan manis
seakan tak dapat ku lupakan begitu saja…
hari-hariku seperti hampa…
hatiku seperti bom yang ingin meledak
jika mengingat dirimu…
sahabat……..
aku merindukanmu…
sangat merindukanmu
aku ingin mengirim sepupuk rindu padamu…
melalui sajak puisi ini…
aku ingin kau menjadi bintang
yang tetap bersinar dihatiku
sahabatku….
Puisi ini Karya : Gracia Sari Asinta
Kamis, 05 Januari 2012
Puisi Untuk Ibu
Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Ibu…..
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Ibu…..
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan Bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun…..
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….
Ibu….
Aku sayang padamu…..
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya…..
Langganan:
Postingan (Atom)